Siapa yang tak kenal dengan pondok pesantren tebu ireng ini? Pondok yang didirikan oleh pendiri organisasi masyarkat ini menjadi salah salah satu pondok pesantren terbesar di indonesia yang terletak di kabupaten Jombang Jawa Timur. K.H Hasyim Asyari mendirikan Pondok pesantren ini sekitar tahun 1889 bertempat di dusun tebu ireng, cukir, Diwek, Jombang Jawa Timur. Sebelum kehadiran pondok pesantren tebu ireng ini, kawasan tersebut dikenal dengan berbagai aksi kejahatan seperti berjudi, minum-minuman keras, perampokan dan lain sebagainya. Namun, alhamdulillah dengan izin Alloh SWT, perlahan-perlahan KH Hasyim Asyari dan para santrinya memberikan dampak positif kepada warga sekitar dan lingkungan hingga perbuatan-perbuatan jahat yang dulu sering dilakukan oleh waran tebu ireng tersebut sudah tidak ada lagi.


Metode pembelajaran yang digunakan oleh para pengajar yang ada di dalam pondok pesantren ini mengalami beberapa perubahan seiring dengan perkembangan zaman dan kondisi yang ada. Namun, metode pembelajaran yang berlaku pada saat ini ialah metode sorongan. Metode sorongan ialah metode pembelajaran dimana seorang santri akan membaca kitab kuning yang disaksikan oleh guru. Metode lain yang digunakan di pondok pesantren ini ialah metode bandongan atau metode weton atau sering disebut juga dengan metode halqah. Metode pembelajaran ini seorang ustadz akan membacakan kitab dan santri bertugas untuk menuliskan makna pada kitab mereka masing-masing. Metode-metode ini sudah umum digunakan di berbagai pondok pesantren di Jawa timur.

Seiring dengan perkembangan zaman, pondok pesantren bukan hanya di tempati oleh para santriwan dan santriwati yang belajar tentang ilmu agama islam saja. Karena pondok pesantren berorientasi pada pembinaan dan pencetakan generasi penerus bangsa yang profesional dan berakhlakul karimah, maka beberapa pondok pesantren juga mengadakan kegiatan pembelajaran tentang ilmu pengetahuan umum sesuai dengan tingkatan yang diikuti oleh para santriwan dan santriwati tersebut. Boleh dikatakan bahwa pondok pesantren tersebut menggabungkan antara sekolah formal dan sekolah tentang agama islam. Meskipun berada di pondok pesantren, bukan berarti santriwan dan santriwati tidak mengetahui pengetahuan umum yang ada.